Catatan : Redaksi Jurnallampung.com
BANDAR LAMPUNG – Lapangan Tugu Adipura kemarin pecah. Ribuan warga AMAL MBG turun. Spanduk kebuka: “Jangan Stop MBG, Tapi Tutup SPPG Nakal”. Teriakannya satu: lanjutkan programnya, sikat oknumnya.
sebelumnya, di panggung lain: mahasiswa juga teriak. Isinya kebalik: tolak MBG, audit dulu. Alasannya sama: demi anak.
Jadi ini aneh. Sama-sama “demi anak”, tapi obatnya beda. Yang satu minta infus dicabut dulu. Yang satu minta infusnya dikencengin, tapi botolnya diganti.
Lalu publik bertanya: ini benturan idealisme, atau benturan kepentingan?
1. Mahasiswa “Stop Dulu” vs Warga “Gas Terus” – Dua Rasa Takut yang Sama
Mahasiswa takutnya: kalau MBG jalan di tengah carut-marut pasca kasus Dadan Cs, anak jadi korban. Gizi nggak masuk, anggaran bocor. Jadi mereka pencet rem.
Warga AMAL MBG takutnya: kalau MBG di-stop, anak balita + ibu dapur + petani telur langsung nggak makan. Jadi mereka injak gas.
Dua rasa takut itu manusiawi. Nggak ada yang jahat. Masalahnya, dua-duanya nggak mau ngalah. Padahal solusinya ada di tengah: jalan, tapi bersih.
Tuntutan warga “tutup SPPG nakal, bukan stop MBG” itu cerdas. Artinya mereka nggak buta. Mereka tahu ada dapur yang “nakal”. Tapi mereka nggak mau anaknya jadi korban imbas nutup semua dapur.
2. “Aksi Bayaran”? Publik Boleh Curiga, Media Nggak Boleh Nuduh Oke Kita ngerti geramnya netizen. Liat dapur ngotot buka pas pengelolanya ada yang jadi tersangka, langsung kepikiran: “jangan-jangan bayaran”.
Tapi sebagai media, kita nggak bisa nulis “aksi bayaran” tanpa bukti transfer, tanpa kwitansi, tanpa pengakuan. Itu fitnah. Dan fitnah bikin opini kita nggak ada giginya.
Yang boleh kita tulis: “publik bertanya”. Boleh kita tulis: “tuntutan warga ‘jangan stop MBG’ menguntungkan rantai ekonomi dapur”. Itu fakta. Karena emang kalau dapur jalan, tukang sayur, tukang ayam, ibu juru masak tetap gajian.
Tapi “butuh gizi” buat pemilik dapur? Itu yang harus hati-hati. MBG = Makan Bergizi Gratis untuk anak, balita, ibu hamil. Bukan untuk pemilik dapur. Kalau ada pemilik dapur yang “kelaparan gizi”, itu urusan pribadi, bukan urusan anggaran MBG.
3. Titik Temu: “Maksimalkan, Perketat, Jangan Stop”
Lihat spanduk warga AMAL MBG Bun. Isinya waras semua: “Maksimalkan Program MBG”, “Perketat Pengawasan MBG”.
Nah loh. Ternyata warga + mahasiswa sebenernya satu frekuensi: sama-sama mau MBG yang bener. Bedanya di “rem”.
Mahasiswa = rem dulu, beresin mesin, baru jalan.
Warga = jalan pelan sambil beresin mesin di bengkel.
Dua-duanya nggak mau mobilnya mogok di tengah jalan.
Penutup: Jangan Adu Domba “Anak Balita vs Mahasiswa”
Orator AMAL MBG bilang: “biar anak balita kita tetap dapat MBG”. Mahasiswa bilang: “biar anak sekolah nggak jadi kelinci percobaan”.
Dua-duanya anak Way Kanan/Lampung. Nggak ada yang lebih prioritas. Balita butuh gizi hari ini. Anak SD butuh gizi 6 tahun ke depan.
Jadi tugas Pemda + Dinkes sekarang bukan milih kubu. Tugasnya jadi wasit:
- Dengerin warga: MBG jangan dimatiin total.
- Dengerin mahasiswa: MBG jangan jalan buta.
- Solusinya: pause selektif. Dapur/SPPG yang bersih + lolos audit = jalan. Dapur “nakal” = tutup, ganti pengelola, audit keuangannya.
Kalau Pemda bisa gitu, dua aksi ini malah jadi keren. Mahasiswa ngawal, warga ngingetin. Pemerintah kerja.
Tapi kalau Pemda diam, dua aksi ini akan terus berisik. Dan yang dirugiin siapa? Anak balita yang diomongin orator. Anak SD yang dibela mahasiswa.
MBG itu buat mereka. Bukan buat ego kita orang dewasa.
Disclaimer: Opini ini berdasarkan pemberitaan aksi AMAL MBG di Tugu Adipura & aksi mahasiswa tolak MBG. Tidak menuduh “aksi bayaran” .
Di tulis Oleh : Ferdiansyah,Pimpinan Redaksi Dan Penanggung Jawab Jurnallampung.com