Way kanan. Jurnallampung.com,-Angin sore di Kampung Sukarame, Kecamatan Gunung Labuhan, membawa bau lembap yang khas. Bukan aroma tanah basah setelah hujan, melainkan bau rerumputan liar yang tumbuh tak terkendali di pekarangan sebuah rumah tua. Di sanalah, Asmiyati dan Tukiman menghabiskan sisa hari-hari mereka. Dua kakak beradik lansia yang seolah menjadi bayang-bayang di tanah kelahiran sendiri.
Rumah itu berdiri rapuh, dindingnya retak-retak menahan beban waktu. Atapnya bocor di sana-sini, membiarkan cahaya matahari masuk bukan sebagai penerang, tapi sebagai pengingat bahwa perlindungan atas kepala mereka sudah tak lagi utuh. Di dalam, perabotan yang tersisa hanyalah saksi bisu kemiskinan yang mendera. Tempat tidur mereka reyot, kasur tipis yang telah kehilangan empuknya bertahun-tahun lalu. Pakaian yang melekat di tubuh keduanya kusam, warnanya pudar dimakan usia dan cucian yang jarang.
Eka Indra, Kepala Dusun 7, pernah bercerita dengan suara berat tentang sejarah kelam di balik atap bobrok itu. “Awalnya kehidupan mereka normal,” kenangnya suatu hari. Namun, takdir berkata lain. Asmiyati ditinggal suami, Tukiman ditinggal istri. Kehilangan pasangan hidup ternyata bukan hanya soal kesepian, tapi juga runtuhnya sandaran ekonomi dan mental. Kesehatan keduanya merosot tajam sejak itu, diikuti oleh gangguan kesehatan mental yang membuat mereka semakin terisolasi dari dunia luar.
Asmiyati memang memiliki seorang anak di Bengkulu. Tapi jarak dan keterbatasan ekonomi sang anak membuat bantuan yang datang hanyalah setetes air di padang pasir. Sementara Tukiman? Ia sama sekali tak memiliki keturunan. Keduanya saling mengandalkan, dua jiwa tua yang saling menghangatkan di tengah dinginnya ketidakpastian.
Selasa, 28 Juli 2026, saat awak media melangkah masuk ke halaman rumah mereka, rumput liar hampir menyentuh lutut. Semak-semak menutupi pandangan, seolah ingin menyembunyikan penderitaan ini dari mata dunia. Asmiyati dan Tukiman menatap kami dengan tatapan kosong namun penuh harap. Tatapan orang-orang yang sudah lama menunggu uluran tangan, yang sudah terlalu sering kecewa sehingga harapan mereka tinggal seutas benang tipis.
Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD) dari Pemerintah Kampung Sukarame memang pernah sampai ke tangan mereka. Tapi uang itu habis dalam hitungan hari, tertelan kebutuhan dasar yang tak pernah berhenti menuntut. Sesekali, warga sekitar yang masih punya hati memberi nasi atau lauk pauk. Itu saja yang membuat api kehidupan di dapur tua itu tetap menyala, meski redup.
Awak media tak bisa hanya berdiri dan mencatat penderitaan mereka sebagai berita. Tangan bergerak sendiri, mengeluarkan sedikit rezeki dari saku. Nilainya mungkin tak berarti bagi banyak orang, tapi bagi Asmiyati dan Tukiman, itu adalah bukti bahwa mereka belum sepenuhnya dilupakan. Bahwa di luar rumput liar dan dinding retak itu, masih ada manusia yang peduli.
Mereka menerima bantuan itu dengan tangan gemetar dan ucapan terima kasih yang lirih. Suaranya serak, seperti pintu engsel yang sudah lama tak diminyaki. Di situ, kita melihat betapa kecilnya keinginan mereka: bukan kekayaan, bukan kemewahan, tapi sekadar diperhatikan. Sekadar diingat bahwa mereka masih ada.
Kisah Asmiyati dan Tukiman bukan cerita unik di Way Kanan. Di sudut-sudut kampung lain, mungkin ada puluhan, bahkan ratusan lansia serupa yang hidupnya tergantung pada belas kasihan tetangga dan sisa-sisa anggaran desa. Mereka adalah orang-orang yang pernah membangun negeri ini, yang tangannya pernah mencangkul tanah dan punggungnya pernah membungkuk demi pangan bangsa. Kini, di ujung usia, mereka justru terpinggirkan, terlupakan, dan dibiarkan berjuang sendirian melawan lapar, sakit, dan kesepian.
Pemerintah Kabupaten Way Kanan, Dinas Sosial, dan instansi terkait—kami tidak meminta kalian melakukan hal yang mustahil. Kami hanya meminta kalian membuka mata dan hati. Kunjungilah mereka. Bukan sekadar untuk foto dokumentasi atau laporan administratif, tapi untuk benar-benar melihat, mendengar, dan merasakan. Kirimkan tenaga medis secara rutin, minimal sebulan sekali, untuk memeriksa kesehatan fisik dan mental mereka. Berikan pendampingan yang konsisten, bukan bantuan yang datang dan pergi seperti angin lalu.
Asmiyati dan Tukiman tidak minta banyak. Mereka hanya ingin tahu bahwa di masa tua yang sunyi ini, mereka masih dianggap manusia yang berharga. Bahwa jeritan diam mereka di balik rumput liar Sukarame didengar oleh mereka yang berkuasa.
Karena pada akhirnya, ukuran peradaban suatu bangsa bukan dari gedung-gedung tingginya atau angka-angka pertumbuhan ekonominya. Tapi dari bagaimana ia memperlakukan orang-orang paling lemah di antara kita. Dari apakah Asmiyati dan Tukiman bisa tidur nyenyak malam ini tanpa khawatir besok pagi perut mereka kosong.
Rumput liar di pekarangan mereka mungkin akan terus tumbuh. Tapi semoga, setidaknya, perhatian dari pemerintah dan sesama manusia bisa tumbuh lebih cepat, lebih tinggi, dan lebih kuat daripada semak belukar yang mencoba menyembunyikan penderitaan dua lansia yang hanya ingin dihargai keberadaannya sebelum ajal menjemput.