WAY KANAN, Jurnallampung.com – Fenomena paradoks kembali terjadi di tengah masyarakat terkait ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis subsidi. Meskipun pemerintah dan PT Pertamina secara resmi menyatakan tidak ada kenaikan harga untuk BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar, realitas di lapangan menunjukkan kondisi yang sebaliknya. Warga justru semakin kesulitan mendapatkan jatah BBM bersubsidi tersebut.
Hal ini terlihat jelas dari laporan warga yang beredar di media sosial, khususnya di wilayah Bedeng Alang-Alang, Kabupaten Way Kanan, Lampung. Sebuah video yang diunggah oleh akun “Waykanan Terkini” menampilkan antrean panjang kendaraan, termasuk truk tangki, yang memadati area Pom Bensin Bedeng Alang-Alang. Kondisi ini mengindikasikan adanya kelangkaan stok atau pembatasan pembelian yang ketat di SPBU tersebut.
Kesulitan mengakses BBM subsidi ini secara tidak langsung memaksa masyarakat untuk beralih membeli BBM non-subsidi (seperti Pertamax) yang harganya jauh lebih mahal. Bagi masyarakat berpenghasilan rendah ini sangat membebani seperti angkutan umum, hal ini menjadi beban ekonomi tambahan yang memberatkan.
“Kalau Pertalite susah dapatnya, mau tidak mau harus isi Pertamax walaupun harganya selisih banyak. Kalau dipaksa antre berjam-jam, waktu dan tenaga juga terbuang,” keluh salah satu warga setempat yang enggan disebutkan namanya.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar mengenai distribusi BBM subsidi yang belum merata. Apakah kelangkaan ini disebabkan oleh masalah logistik, penimbunan, atau kebijakan internal SPBU dalam membatasi penjualan?
Pihak Pertamina cabang setempat hingga berita ini diturunkan belum memberikan klarifikasi resmi terkait penyebab antrean panjang dan sulitnya mendapatkan Pertalite di wilayah Bedeng Alang-Alang. Masyarakat berharap agar pihak terkait dapat segera mengatasi masalah distribusi ini agar hak masyarakat atas BBM subsidi tetap terpenuhi sesuai regulasi yang berlaku.
(Red)