WAY KANAN, Jurnallampung.com – Gerakan literasi di Kabupaten Way Kanan terus melahirkan kreator muda. TBM Rumah Baca Lintas Literasi kembali menjadi inkubator kreativitas dengan menggelar “Pelatihan Menulis Cerpen Kisah Lokal” pada Minggu, 23 Agustus 2026. Bertempat di Dusun 4 Way Kawat, Kampung Gunung Sangkaran, Kecamatan Blambangan Umpu, kegiatan ini bertujuan mendorong pelajar dan mahasiswa untuk mengabadikan kekayaan budaya daerah melalui karya sastra.
Kegiatan yang dimulai pukul 07.00 WIB ini dihadiri oleh peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari siswa SMPN 4 Blambangan Umpu dan SMAS PGRI Blambangan Umpu, hingga aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan DEMA Institut Agama Islam (IAI) Al Hikmah Lampung. Keragaman peserta menciptakan dinamika diskusi yang kaya, memadukan perspektif remaja dengan wawasan kaum muda terdidik dalam menggali potensi cerita lokal.
Belajar Teknik Menulis dari Praktisi dan Budayawan
Peserta dibimbing langsung oleh tiga narasumber kompeten yang menguasai aspek kebudayaan dan kepenulisan:
- Yudison, S.H., M.M. (Kabid Kebudayaan Disdikbud Way Kanan): Memberikan konteks historis dan nilai-nilai kearifan lokal yang layak diangkat.
- Eko Prasetyo, S.Pd. (Ketua Forum TBM Way Kanan): Berbagi strategi membangun ekosistem literasi berbasis komunitas.
- Agus Riyanto, M.Pd. (Penulis): Memandu teknik praktis penulisan cerpen, mulai dari penggalian ide, pembangunan karakter, hingga penyusunan alur yang memikat.
Fokus utama pelatihan bukan hanya pada teori, melainkan praktik produksi karya. Peserta ditantang untuk mengubah observasi terhadap tradisi, tokoh masyarakat, atau fenomena sosial di Way Kanan menjadi naskah cerpen yang utuh. Output ini diharapkan menjadi dokumentasi hidup yang dapat dipublikasikan dalam antologi maupun media komunitas.
Literasi sebagai Alat Pelestarian Memori Kolektif
Ketua TBM Rumah Baca Lintas Literasi, Akhmad Suprianto, S.M., menegaskan bahwa menulis kisah lokal adalah bentuk pelestarian memori kolektif. “Melalui menulis, generasi muda tidak hanya belajar berkarya, tetapi juga ikut merawat ingatan masyarakat agar tidak punah dimakan zaman. Cerita-cerita di sekitar kita adalah emas yang harus digali dan diolah menjadi warisan budaya,” ujarnya.
Kegiatan ini membuktikan bahwa gerakan literasi di Way Kanan telah bertransformasi dari sekadar “gemar membaca” menjadi “produktif berkarya”. Sinergi antara sekolah, kampus, organisasi pemuda, dan komunitas TBM menjadi modal kuat untuk melahirkan penulis-penulis baru yang bangga dengan identitas daerahnya.
TBM Rumah Baca Lintas Literasi berkomitmen untuk terus menyediakan ruang tumbuh bagi kreator muda. Ke depannya, naskah-naskah terbaik hasil pelatihan akan difasilitasi untuk diterbitkan, memastikan bahwa suara dan cerita Way Kanan tetap bergema dan dikenali oleh generasi mendatang.
(Red)