Oleh: Ferdiansyah Bendahara DPC Pro Jurnalismedia Siber Way Kanan
Spanduk “Tolak Kenaikan BBM” kini berjejer seperti nisan harapan. Dari Monas sampai perempatan Blambangan Umpu, dari gedung DPR sampai pasar Baradatu. Mahasiswa, buruh, petani, tukang ojek—mereka turun bukan karena suka panas. Mereka turun karena dinginnya ruang dialog telah membekukan suara.
Demo bukan kerusuhan. Demo adalah puisi terakhir rakyat, ketika surat cinta mereka kepada penguasa tak pernah dibalas.
1. Subsidi: Obat yang Diberi, Tapi Tak Ditakar
Katanya subsidi BBM Rp500 triliun melukai APBN. Maka subsidi dipotong. Secara angka, itu bedah. Secara rasa, itu amputasi.
Di Way Kanan, amputasi itu nyata. Traktor petani sawit di Banjit kini minum solar lebih mahal. Perahu nelayan di Sungai Way Kanan tiap melaut harus berdoa dua kali: minta ikan, minta subsidi tak naik lagi. Ojek pangkalan di Umpu narik dari subuh, tapi setoran habis buat bensin. Ibu-ibu di Pasar Pakuan Ratu menimbang beras setengah kilo, karena gaji tak pernah naik, tapi harga selalu.
“Subsidi tepat sasaran,” katanya. Tapi sasaran meleset. DTKS bolong, BLT Rp150 ribu datangnya seperti hujan Agustus—langka dan telat. Sementara harga beras, minyak, cabe sudah lebih dulu menari di atas penderitaan.
Rakyat dicekoki pahit dulu. Manisnya? Janji.
2. Demo di Daerah: Jeritan yang Tak Sampai ke Istana
Demo mahasiswa di Metro, buruh di Bandar Lampung, warga Way Kanan di depan Kantor Bupati. Itu bukan makar. Itu alarm demokrasi yang berdarah-darah.
Di daerah, demo tak butuh panggung. Cukup terik matahari dan motor butut. Ada bapak petani teriak: “Solar mahal, sawit murah, kami mau makan apa?” Ada ibu-ibu PKK berbisik: “Cabe 70 ribu, BLT belum cair, anak mau jajan pakai apa?”
Tapi istana jauh. Yang dekat cuma pagar kawat dan water cannon. Rakyat disuruh “sabar, demi Indonesia maju”. Tapi sabar tanpa keadilan rasanya seperti disuruh mati pelan-pelan.
3. Way Kanan: Korban yang Selalu Terlambat Disebut
Jakarta punya MRT untuk lari dari BBM mahal. Way Kanan punya apa? Hanya jalan rusak Pakuan Ratu – Negara Batin dan motor tua yang batuk-batuk.
Subsidi dicabut tanpa sediakan napas alternatif. Itu namanya menjerumuskan, bukan menyelamatkan. Harga TBS sawit anjlok, upah buruh diam, BBM melonjak. Way Kanan dihantam tiga badai sekaligus, tanpa payung.
4. Tuntut Kami: Empat Lilin di Tengah Gelap Kebijakan
Kami bukan penolak perubahan. Kami penolak pengkhianatan terhadap rakyat kecil. Jika subsidi memang harus dipangkas, maka lakukan ini sebelum rakyat Way Kanan mati lemas:
- Bicaralah Manusiawi: Jangan umumkan kenaikan tengah malam seperti pencuri. Hadapilah rakyat, jelaskan dengan data. Rakyat Way Kanan berhak tahu, bukan hanya disuruh patuh.
- Kompensasi Dulu, Baru Naikkan: BLT BBM harus tiba sebelum harga naik. Bukan setelah perut rakyat keroncongan. Perluas ke buruh tani, nelayan, ojek. Benahi DTKS sampai ke RT paling ujung di Gunung Katun.
- Jaga Dapur Rakyat: Satgas Pangan, Satpol PP, Polres Way Kanan—turunlah ke pasar. Jangan biarkan harga pangan ikut mabuk kenaikan BBM. Ada mafia, potong kepalanya. Ada pedagang curang, sikat.
- Buka Pintu, Jangan Pagar: Bupati, Camat, DPRD Way Kanan—undang rakyat bicara sebelum mereka berteriak di jalan. Dialog lebih murah dari gas air mata. Dengarkan sebelum jalanan jadi mimbar terakhir.
Penutup: Jangan Kau Bakar Negeri Ini Demi Neraca
BBM adalah darah. Cabut subsidinya sama seperti menyedot darah rakyat tanpa memberi infus pengganti.
Demo di daerah bukan pengkhianatan. Itu wasiat. Wasiat dari rakyat yang sudah kehabisan kata, tapi masih punya nyali untuk berdiri.
Wahai penguasa, sehatkan APBN-mu. Tapi jangan kau jadikan rakyat Way Kanan sebagai tumbalnya. Naikkan harga boleh. Tapi jangan kau naikkan murka rakyat.
Karena ketika rakyat sudah turun ke jalan, itu tandanya: sabar mereka sudah habis, dan mimbar terakhir mereka adalah aspal.
Opini ini suara nurani redaksi Jurnallampung.com dari Bumi Lampung. Ruang hak jawab terbuka untuk pemerintah, DPR, ekonom, dan seluruh rakyat Indonesia.