Opini Oleh : Ferdiansyah,Bendahara DPC Pro Jurnalismedia Siber Way Kanan.
WAY KANAN – Lampu disko warna-warni menyapu halaman lapangan desa. Suara keyboard orgen tunggal menghentak, disambut sorakan dan tepuk tangan puluhan warga yang sudah berkumpul sejak magrib. Malam itu seharusnya jadi perayaan syukuran pernikahan warga Kampung Sumber Rejo.
Tapi di balik keramaian, ada sesuatu yang merayap pelan di sela-sela kerumunan.
Rudi, 28 tahun, nama samaran, duduk di pinggir panggung. Ia bukan tamu undangan. Ia datang dengan tas kecil dan senyum yang terlalu ramah. “Silakan, bro. Biar malamnya makin rame,” katanya sambil mengulurkan bungkusan kecil ke seorang pemuda yang baru pertama kali datang ke acara orgen tunggal.
Cerita ini fiksi. Tapi polanya, terlalu sering kita dengar.
Organ tunggal memang hiburan rakyat. Murah, merakyat, dan jadi tempat berkumpul warga dari anak muda sampai orang tua. Di desa-desa, orgen tunggal adalah ruang sosial satu-satunya yang bisa menghidupkan malam.
Masalahnya, ruang itu juga dimanfaatkan. Pengedar narkoba tahu, keramaian, musik keras, dan pengawasan yang minim membuat transaksi jadi mudah. Yang awalnya hanya “sekadar coba-coba biar nggak ngantuk”, bisa berakhir di rumah sakit. Atau lebih parah, di kamar jenazah.
“Saya tidak membenarkan pengunjung memakai narkoba di acara orgen tunggal. Apalagi sampai terjadi hal fatal,” kata salah satu, pengusaha orgen tunggal di Way Kanan, dalam percakapan beberapa waktu lalu.
Ia takut. Bukan karena takut rugi, tapi karena takut melihat panggung yang ia dirikan berubah jadi panggung kematian.
Bayangkan: keluarga yang menggelar hajatan dengan susah payah, tiba-tiba harus menanggung malu karena ada tamu overdosis di acara mereka. Pemilik orgen tunggal yang bekerja halal, tiba-tiba dicap sebagai fasilitator narkoba. Padahal mereka sendiri jadi korban.
Faktanya, orgen tunggal tidak bersalah. Musik tidak membunuh. Yang membunuh adalah diamnya kita saat melihat peredaran narkoba dibiarkan tumbuh di keramaian.
Lalu apa yang bisa dilakukan?
- Pemilik hajat dan EO: Buat kesepakatan tegas. Tidak ada narkoba di area acara. Kalau perlu, koordinasi dengan RT/RW dan Babinsa.
- Aparat: Pengawasan jangan hanya menunggu laporan. Patroli ringan saat acara berlangsung bisa jadi pencegahan.
- Masyarakat: Berani menegur dan melapor. Jangan biarkan budaya “biarin aja” yang akhirnya mencelakai anak kita sendiri.
Orgen tunggal seharusnya jadi panggung kegembiraan, bukan panggung duka. Jangan tunggu sampai ada nama yang disebut di berita duka cita, baru kita sibuk mencari siapa yang salah.
Malam itu di Kampung Sumber Rejo hanyalah cerita. Tapi di luar sana, ada malam-malam lain yang nyata. Dan pilihan ada di tangan kita: membiarkannya jadi tragedi, atau menghentikannya sebelum terlambat.
Catatan: Nama dan kejadian dalam cerita ini fiktif, dibuat untuk menggambarkan persoalan nyata seputar peredaran narkoba di acara hiburan rakyat.