LUMAJANG . Jurnallampung.com,– Tradisi kelam carok kembali memakan korban di Kabupaten Lumajang. Duel berdarah antarkerabat pecah pada Kamis (21/5/2026) di area perkebunan sengon, Desa Sumberweringin, Kecamatan Klakah. Akibatnya, satu orang tewas di tempat, sementara lawannya kritis.
Dua pria yang terlibat, Abdul Karim dan Wasil, diketahui masih tetangga dekat sekaligus kerabat. Insiden berdarah itu diduga dipicu insiden sepele di jalan kampung.
Berawal dari Serempetan, Berujung Celurit
Peristiwa bermula saat sepeda motor yang dikendarai Abdul Karim dan Wasil bersenggolan di jalan desa. Adu mulut tak terhindarkan. Emosi memuncak, Abdul Karim memacu motornya pulang lalu mengambil sebilah celurit.
Ia kemudian memburu Wasil ke kebun sengon. Duel satu lawan satu dengan senjata tajam pun pecah. Sabetan celurit membuat kebun sengon berubah jadi lokasi pembantaian.
Abdul Karim tewas seketika dengan luka bacok parah di kepala. Sementara Wasil menderita luka robek serius di perut dan langsung dilarikan ke rumah sakit untuk operasi darurat.
Pemicu Sebenarnya: Dendam Lama Soal Daun Nangka
Meski dipicu serempetan motor, Satreskrim Polres Lumajang menyebut itu hanya pemantik. Akar masalahnya adalah dendam lama terkait perebutan daun nangka untuk pakan ternak.
Istri Abdul Karim, Saniyeh, membenarkan hal itu. Ia mengaku pernah mengambil daun nangka sedikit untuk pakan. Wasil menegurnya keras. Keesokan harinya, Wasil datang ke rumah marah-marah kepada suaminya.
“Masalahnya dulu, saya ambil rumput terus ada pohon nangka dan saya ambil daunnya sedikit. Wasil tidak terima dan menegur saya keras. Besoknya dia malah datang ke rumah marah-marah besar ke suami saya,” ujar Saniyeh, Kamis (21/5/2026).
Polisi Amankan Lokasi, Antisipasi Balas Dendam
Kasat Reskrim Polres Lumajang AKP Pras Ardinata mengonfirmasi kasus ini sudah diambil alih. Pelaku dan korban memang tetangga sekaligus keluarga.
“Dugaan awal, penyebab utama akibat akumulasi dendam lama yang meledak saat terjadi insiden di jalan,” ujarnya.
Olah TKP sudah selesai. Personel masih disiagakan di sekitar lokasi untuk mencegah aksi balas dendam susulan dari kedua keluarga.
“Dari olah TKP, mereka memang punya dendam lama. Puncaknya saat berpapasan dan bersenggolan kendaraan. Salah satu pihak pulang ambil celurit lalu terjadi duel,” pungkas AKP Pras Ardinata.(**)