WAY KANAN, Jurnallampung.com – Kasus dugaan pembegalan yang menimpa seorang guru SD di wilayah Baratayuda, Kecamatan Gedong Batin, Kabupaten Way Kanan, memicu gelombang keresahan di media sosial. Unggahan berita mengenai insiden tersebut dibanjiri komentar warganet yang tidak hanya menyayangkan kejadian itu, tetapi juga mengungkap fakta mengerikan bahwa anak sang guru turut menjadi korban kekerasan.

Anak Guru Alami Trauma Berat
Salah satu komentar yang paling menyita perhatian berasal dari akun Cech Dhe-dhe Dhea, yang mengungkapkan bahwa pelaku tidak hanya menyerang sang ibu, tetapi juga anaknya. “Anaknya pun turut jadi korban pemukulan begal tersebut, hingga si anak mengalami trauma berat,” tulisnya. Informasi ini menambah berat beban psikologis keluarga korban dan memantik simpati mendalam dari publik.
Modus Baru: Begal Berpakaian Rapi
Fenomena menarik lainnya yang disoroti netizen adalah perubahan modus operandi para pelaku. Akun Cech Dhe-dhe Dhea dan Lheniene Albert mencatat bahwa para begal kini sering menyamar dengan pakaian rapi, menyerupai pegawai bank atau orang kantoran, untuk menurunkan kewaspadaan korban.

“Modus begal sekarang berpakaian rapi seperti pegawai Bank,” ujar Cech. Senada dengan itu, Lheniene menambahkan, “Iya benar, mereka pakai baju bagus stil kayak mau main.” Modus penyamaran ini dinilai sangat berbahaya karena membuat masyarakat sulit membedakan antara warga biasa dan oknum kriminal.
Keresahan Warga: Sudah Kejadian Ketiga Bulan Ini
Kondisi keamanan di Gedong Batin dinilai semakin mengkhawatirkan. Akun Wawan menyoroti frekuensi kejahatan yang meningkat drastis dalam waktu singkat. “Bulan ini berturut-turut sampai 3 kejadian, di lokasi yang tidak jauh juga,” keluhnya.
Sementara itu, Eli Fatma Wati menyuarakan ketakutan sebagai orang tua yang setiap hari harus mengantar jemput anak sekolah. Ia mempertanyakan efektivitas patroli keamanan di jalur-jalur rawan seperti Brantas, mengingat para begal seolah beroperasi tanpa rasa takut meski di siang hari bolong.
Desakan Penindakan Tegas
Rangkaian komentar ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap keamanan di wilayah Gedong Batin sedang teruji. Publik mendesak aparat kepolisian tidak hanya menangani kasus per kasus, tetapi juga membongkar jaringan begal bermodus “rapi” ini sebelum jatuh lebih banyak korban, terutama dari kalangan pendidik dan pelajar.
(Red)