LAMPUNG, Jurnallampung.com – Aksi Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), yang menginjak kepala kerbau saat prosesi pemberian gelar adat di Kedaton Keagungan, Lampung, terus menjadi sorotan publik. Momen yang terekam kamera tersebut memicu berbagai interpretasi di ruang digital, mulai dari anggapan sebagai simbol politik hingga sekadar bagian dari ritual sakral.
Menanggapi polemik ini, Pengamat Komunikasi Politik dari Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, memberikan pandangan yang menempatkan peristiwa tersebut dalam konteks budaya lokal. Menurutnya, ritual yang berlangsung di Kedaton Keagungan tersebut memang secara alami memicu multitafsir di mata masyarakat luas yang mungkin tidak familiar dengan detail adat istiadat setempat.
Kerbau Bukan Sekadar Hewan Biasa
Jamiluddin menjelaskan bahwa dalam kacamata tradisi masyarakat Lampung, khususnya dalam prosesi adat tingkat tinggi, kerbau bukanlah hewan sembarangan. Kerbau memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan sakral.
“Injak kepala kerbau” dalam konteks ini bukan berarti merendahkan atau menyakiti, melainkan sebuah simbolisasi kekuasaan, kewibawaan, dan penguasaan atas tanah atau wilayah adat. Bagi orang luar, aksi menginjak mungkin terlihat kasar, namun bagi pemangku adat, itu adalah bagian dari legitimasi seorang pemimpin atau tokoh yang sedang diberi gelar kehormatan.
Tanggapan PDIP: Bentuk Kesombongan dan Logo Partai Adalah Banteng
Merespons hal tersebut, Ketua DPP PDIP, Guntur Romli, menilai tindakan tersebut merupakan bentuk kesombongan dan tidak mencerminkan penghormatan terhadap nilai-nilai tradisi. Guntur mengatakan hewan yang telah dikurbankan dalam berbagai tradisi adat semestinya diperlakukan dengan penuh penghormatan, bukan diinjak.
Ia juga menegaskan bahwa logo PDIP adalah banteng, bukan kerbau maupun sapi, sehingga membantah anggapan yang mengaitkan prosesi tersebut dengan lambang partainya.
Makna Ritual: Meninggalkan Sifat Buruk
Di sisi lain, hingga kini belum ada penjelasan resmi dari Jokowi maupun pihak penyelenggara mengenai makna prosesi tersebut. Sejumlah sumber menyebut bahwa dalam tradisi adat tertentu, menginjak kepala kerbau merupakan simbol meninggalkan sifat-sifat buruk agar seseorang menjadi pribadi yang lebih suci dan bersih. Prosesi itu umumnya dilakukan dalam pemberian gelar adat atau upacara adat bagi tokoh yang dihormati.
Dilansir dari Tribunnews, penyelenggara juga belum memberikan keterangan resmi mengenai makna prosesi yang dijalani Jokowi tersebut.
Politik Simbol vs Kearifan Lokal
Meski demikian, Jamiluddin mengakui bahwa di era media sosial, setiap gerakan pejabat publik—terutama mantan presiden—akan selalu dibaca melalui kacamata politik. Tidak heran jika banyak warganet yang langsung menghubungkannya dengan simbol-simbol partai politik tertentu atau isu-isu nasional lainnya.
Namun, pengamat ini mengingatkan pentingnya memahami “bahasa budaya” sebelum memberikan penilaian. Mengurangi ritual adat yang kompleks menjadi sekadar “sindiran politik” dikhawatirkan dapat mengikis makna filosofis yang sesungguhnya ingin disampaikan oleh para tetua adat kepada sang penerima gelar.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa komunikasi politik di Indonesia tidak hanya terjadi di podium kampanye, tetapi juga melalui simbol-simbol budaya yang kaya akan makna, namun rentan terhadap misinterpretasi lintas budaya.
(Red)