Way Kanan. JURNALLAMPUNG.COM, – Tak ada yang menyangka, sosok yang selama ini dikenal ramah dan mudah bergaul itu kini justru terseret dalam kasus serius. AIM (46), pria yang pernah berprofesi sebagai guru, disebut juga aktif di dunia politik sebagai bagian dari salah satu partai, pembina sepak bola usia remaja, serta sopir travel rute Banjit–Bandar Lampung, mendadak menjadi perbincangan hangat publik.
Di mata sebagian orang, ia dikenal kerap menunjukkan kedekatan dengan sejumlah tokoh penting. Penampilannya pun sering mencerminkan kepercayaan diri tinggi, seolah memiliki jaringan luas. Namun di balik citra tersebut, tersimpan dugaan kelam yang perlahan mulai terkuak.
Informasi yang berkembang menyebutkan, AIM diduga menjalankan aksinya dengan modus menjanjikan masa depan cerah bagi anak-anak, khususnya peluang masuk tim nasional (Timnas) sepak bola pelajar.
Janji itu menjadi umpan bagi korban yang masih belia—mereka yang memiliki mimpi besar, namun belum memahami risiko di balik kepercayaan yang diberikan.
Bisik-bisik yang semula terdengar pelan, kini berubah menjadi sorotan luas.
Nama AIM viral di media sosial, disertai gelombang kecaman dari masyarakat. Banyak yang mengaku terkejut, bahkan tak percaya dengan dugaan perbuatan yang dituduhkan kepada sosok yang sebelumnya dianggap biasa.
Kasus ini juga sempat menyeret nama Kecamatan Banjit, tempat ia pernah tinggal. Namun masyarakat diingatkan untuk tidak mengaitkan perbuatan individu dengan citra suatu wilayah.
Peristiwa dugaan kejahatan tersebut bermula pada 11 April 2026. Saat itu, tersangka mengajak dua korban untuk menonton film di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Cirebon.
Setelah itu, korban dibawa ke sebuah hotel di Desa Kertawinangun, Kecamatan Kedawung. Di dalam kamar hotel itulah, tersangka diduga melakukan aksi kekerasan seksual terhadap kedua korban.
Kini, aparat penegak hukum masih terus mendalami kasus tersebut. Penyelidikan dilakukan guna mengungkap fakta secara menyeluruh, sekaligus memastikan perlindungan dan keadilan bagi para korban.
Peristiwa ini menjadi peringatan keras bagi semua pihak: kejahatan bisa bersembunyi di balik wajah yang tampak biasa, bahkan di balik kepercayaan yang pernah diberikan tanpa curiga.
( JL 1 )